Jumat, 15 Juni 2012

PancasilaTA ( Titib Absen ) = Pembelajaran untuk Korupsi?






Laporan Penelitian
Budaya Mahasiswa FMIPA UNNES :
 TA ( Titib Absen ) = Pembelajaran untuk Korupsi?




Disusun Oleh :
Nama  : Riza Ariyani Nur Khasanah
Nim     : 4201411029
Prodi   : Pendidikan Fisika

Dosen Pengampu :
Pak Andi Suhardiyanto
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2011
Budaya Mahasiswa FMIPA UNNES : TA ( Titib Absen ) = Pembelajaran untuk Korupsi?
A.    Rumusan Masalah
1.     Bagaimana presepsi  mahasiswa mengenai budaya Titip Absen ( TA ) yang ada di FMIPA UNNES?
2.     Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan budaya Titip Absen itu mengakar  pada kebanyakan mahasiswa FMIPA UNNES?
3.     Apakah budaya Titip Absen ( TA ) sama saja dengan proses pembelajaran untuk korupsi?
B.    Tujuan
1.     Mengetahui bagaimana presepsi  mahasiswa budaya Titip Absen ( TA ) yang ada di FMIPA UNNES.
2.     Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan budaya Titip Absen  ( TA ) itu mengakar pada mahasiswa FMIPA UNNES.
3.     Mengetahui hubungan antara budaya Titip Absen ( TA ) dengan pembelajaran untuk korupsi.
C.    Instrumen Penelitian:
·       Daftar pertanyaan :
1.     Bagaimana presepsi  Anda  mengenai budaya Titip Absen ( TA ) yang ada di FMIPA UNNES?
2.     Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan budaya Titip Absen itu mengakar  pada kebanyakan mahasiswa FMIPA UNNES? Apakah Anda juga pernah mengalami hal-hal seperti itu?
3.     Apakah budaya Titip Absen ( TA ) sama saja dengan proses pembelajaran untuk korupsi?
·       Nara sumber : 10 mahasiswa FMIPA yang terdiri dari :
a.      Mahasiswa jurusan Biologi                : 2 orang
b.     Mahasiswa jurusan Matematika        : 2 orang
c.      Mahasiswa jurusan Fisika                  : 4 orang
d.     Mahasiswa jurusan Kimia                   : 2 orang


D.    Hasil

                        TITIP ABSEN ( TA ) adalah sebuah kebiasaan mahasiswa untuk menitipkan tanda tangan atau absen kepada teman bangku kuliahnya yang secara bersamaan masuk di kelas kuliah yang sama. Tentu ini banyak mengandung pertautan. Harapan dari mahasiswa tersebut adalah, bahwa dia dapat dinyatakan hadir didalam kelas, walaupun raga dia entah sedang berada dimana. ini biasanya dilakukan mana kala menghadapi dosen yang menerapkan kehadiran kuliah sangat ketat. Budaya Titip Absen ( TA ) tersebut juga telah menjadi kebiasaan mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang.
Berdasarkan hasil penelitian, kebanyakan mahasiswa telah mengetahui bahwa budaya Titip Absen ( TA ) itu tidaklah baik dan tidak mencerminkan pribadi seorang mahasiswa. Namun, pada kenyataannya masih juga terdapat mahasiswa yang melakukan hal itu. Hal ini dikarenakan berbagai alasan. Dari 10 mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan, universitas Negeri Semarang yang telah diwawancarai, dihasilkan beberapa alasan:
1.     40% terjadi karena syarat mengikuti Ujian Akhir Semester.
Biasanya 75% atau bahkan 100% kehadiran mata kuliah itu menjadikan syarat ujian pada tengah semester atau akhir semester. Dan mahasiswa itu tidak ingin kehilangan kesempatan tersebut. Oleh karena itu, ketika mahasiswa itu sakit, malas ataupun tidak suka dengan mata kuliahnya, ia melakukan titip absen.
2.     30% terjadi karena keterbatasan waktu.
Ini biasanya terjadi pada mahasiswa aktivis, dimana kegiatan di luar perkuliahan bertumbukan dengan waktu untuk kuliah. Ia ingin aktif di kelas dan aktif di kegiatan.  
3.     20% terjadi karena kehadiran mempengaruhi nilai.
Meskipun mahasiswa mempunyai Hak untuk tidak masuk kuliah 25%, namun mahasiswa tentu berharap agar presensinya 100%. Hal ini terjadi karena, biasanya ada beberapa dosen yang mensyaratkan keahdiran untuk perolehan nilai.
4.     10% terjadi karena kesalahan individu.
Ketika jam masuk kuliah itu jam 07.00 WIB, mahasiwa terlambat hampir 30 menit. Akan tetapi, karena takut masuk akhirnya ia titip absen kepada temannya.
            Maka “hantu-hantu” TA ( Titip Absen) bergentayangan di seisi ruangan kelas kuliah pada setiap waktunya. Mengapa demikian? karena mereka secara pengakuan berada di kelas melalui absensi yang diisinya, akan tetapi dia tidak berada di ruangan tersebut.
Inilah budaya yang dikatakan oleh Denise Rousseau (1990) sebagai norma perilaku, dimana manusia dihadapkan terhadap nilai dari perilakunya. Sehingga layak atau tidak layaknya sebuah perbuatan kini menjadi asumsi lingkungan/masyarakat. Menurut Kluckhohn dan Strodtbeck mengasumsikan bahwa manusia memiliki sisi natural sebagai EVIL/iblis, sehingga sangatlah wajar jika manusia terkadang terjebak dalam kerangka iblis.
Kaitannya dengan budaya TA ( Titip Absen ), maka bisa dikatakan bahwa norma yang berkembang kini menjadi hal yang lumrah jika kita titip absen kepada teman kuliah kita. Sehinga ini menjadikan perilaku keseharian kita yang dapat dimaklumi dan menjadi kebiasaan. Bukan rahasia umum jika kuliah masih saja menjadi ajang “pembelajaran” korupsi bagi generasi mudanya. Sisi iblis yang muncul ketika melakukan dan merencanakan sebuah kejahatan adalah sebagai sisi yang natural menurut Kluckhohn dan Strodtbeck. Sehingga nilai manusia yang ada hilang ditimpa oleh nilai EVIL dalam diri manusia.
                        Berdasarkan hasil penelitian, hampir semua mahasiswa sudah mengetahui jika budaya  TA ( Titip Absen ) itu dapat dikatakat sebagai pembelajaran untuk korupsi.  Titip absen sama dengan berbohong pada diri sendiri, pada dosen, teman-teman dan terutama pada Allah SWT. Dengan kita titip absen, berarti kita telah mendapatkan hak tanpa melakukan kewajiban, terlebih lagi titip absen juga dapat dianggap korupsi waktu, tenaga dan pikiran. Dan itu merupakan perbuatan yang dosa. Dan bagi teman yang dititipi absen, juga dapat dikatakan korupsi. Akan tetapi, kebanyakan mereka mau dititipi karena unsur solidaritas antar teman.
                        jika ini terus berlaku dan tak bisa kita ubah, maka dikhawatirkan mental kita akan semakin tajam terasah untuk korupsi hal yang kecil dan kemudian semakin besar saja, entah terjadi ketika masih menjadi seorang mahasiswa atau sudah bekerja.
E.     Kesimpulan dan Saran
a.      Kesimpulan
                        Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa budaya TA ( Titip Absen ) yang mengakar pada mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan terjadi karena beberapa alasan, yaitu adanya syarat untuk mengikuti Ujian Akhir Semester, keterbatasan waktu, kehadiran mempengaruhi nilai dan kesalahan individu itu sendiri. Budaya TA ( Titip Absen ) juga dapat dikatakan sebagai pembelajaran untuk korupsi. Jika itu terus menerus terjadi, maka akan memberikan dampak perkembangan mental untuk menjadi seorang koruptor yang tentunya menyimpang dari nilai dan norma yang luhur.
b.      Saran
                        Sebagai mahasiswa yang terdidik, hendaknya kita menghilangkan Budaya TA ( Titip Absen ) tersebut, agar tercipta perkembangan jiwa yang luhur dan sesuai dengan nilai dan norma yang luhur. Jika kita terpaksa tidak bisa hadir dalam perkuliahan, maka kita dapat membuat surat izin ataupun menggunakan hak kita untuk tidak hadir 25% dalam perkuliahan. Namun, sebelumnya kita harus memperhitungkan dan mengatur kemungkinan ketidakhadiran kita. Selain itu, hendaknya mahasiswa dapat mengatur waktu, baik waktu untuk kegiatan kuliah maupun kegiatan di luar perkuliahan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar